
Inovasi Pendidikan Budaya: Penerapan Adipangastuti di SMA Negeri 1 Bawang
Oleh: Sauqi Arifatu Anissa
Pendidikan memegang peranan sentral dalam pembentukan karakter siswa. Melalui proses pembelajaran yang terstruktur, siswa diarahkan untuk mengembangkan potensi, baik akademik maupun non-akademik. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus selalu melakukan inovasi agar relevan dengan perkembangan zaman.
Budaya merupakan kombinasi dari nilai, norma, adat istiadat, maupun tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas suatu kelompok masyarakat. Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang menjadi aset berharga, sehingga harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda. Pegenalan dan pemahaman terhadap nilai luhur budaya menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kombinasi pendidikan dan budaya atau pendidikan budaya dapat diimplementasikan dengan tujuan menanamkan karakter berbasis nilai-nilai lokal pada peserta didik. Hal ini terasa krusial, mengingat perkembangan zaman yang semakin maju. Melalui pendekatan ini, tenaga pendidik dapat memastikan bahwa proses transfer ilmu pengetahuan dapat sejalan dengan pembentukan moral dan etika siswa.
Di Indonesia, terdapat banyak budaya yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan karakter generasi muda. Suku Jawa merupakan salah satu suku yang kaya akan nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan kerukunan, serta mengedepankan tata krama atau yang biasa disebut dengan unggah-ungguh. Nilai-nilai ini sangat krusial untuk ditanamkan kepada generasi muda, khususnya di lingkungan sekolah sebagai bekal moral dan sosial bagi siswa.
Arus globalisasi dan masifnya penggunaan media sosial menyebabkan upaya pelestarian budaya menghadapi tantangan besar. Bak “pisau bermata dua”, selain membawa kemajuan teknologi dan informasi, globalisasi juga berpotensi menggeser dan mengikis budaya lokal. Berbagai tantangan muncul seperti, pergeseran budaya dan krisis identitas terhadap budaya sendiri.
Menyadari urgensi ini, Adipangastuti kemudian muncul sebagai inovasi pendidikan budaya di tengah arus globalisasi. Program ini merupakan model pembelajaran yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal hasthalaku di sekolah sejak tahun 2019. Adapun delapan perilaku hasthalaku yang dimaksud, yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pakewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira yang bertujuan untuk menciptakan sekolah yang ideal, toleran, dan berbudaya dengan menerapkan delapan perilaku hasthalaku tersebut.
SMA Negeri 1 Bawang kemudian menjadi sekolah yang menerapkan program Adipangastuti sejak bulan Juli 2024. Peluncuran program ini dibuka dengan persembahan tari Makarya yang mengintegrasikan pengamalan budaya Jawa. Di dalam penerapan program Adipangastuti, SMA Negeri 1 Bawang berfokus pada implementasi perilaku hasthalaku untuk memastikan bahwa pengenalan nilai-nilai luhur dapat terwujud secara nyata dalam sikap dan tindakan sehari-hari warga sekolah.
Pengenalan Adipangastuti sebagai sebuah program baru, dilaksanakan melalui berbagai kegiatan terstruktur. Program ini semakin dikenal luas oleh para siswa melalui berbagai perlombaan menarik yang dilaksanakan oleh sekolah seperti, lomba podcast, lomba naskah film pendek, dan lomba video edukasi. Selain itu, guna meningkatkan pengenalan terhadap program ini, SMA Negeri 1 Bawang juga memutar Mars Adipangastuti setiap pukul 10.00 WIB menyusul pemutaran lagu Indonesia Raya, serta adanya sosialisasi mendalam kepada para guru untuk memastikan seluruh komunitas sekolah memahami dan mendukung esensi program Adipangastuti.
Sikap gotong royong di SMA Negeri 1 Bawang diimplementasikan melalui kegiatan Jumat Bersih, dimana seluruh warga sekolah baik guru, siswa, maupun staf dan karyawan akan bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah. Selain itu, melalui lomba-lomba kreatif seperti podcast, naskah film pendek, dan video edukasi, SMA Negeri 1 Bawang telah mewujudkan gotong royong yang melibatkan peran aktif siswa. Tim tari Svara Natya SMA Negeri 1 Bawang juga sukses menampilkan tari Martani, karya guru seni budaya Ibu Gita Purwaning Tyas M.Pd., dalam Program Sekolah Adipangastuti di Semarang yang menjadi kontribusi besar dalam upaya pelestarian dan pengenalan budaya kepada masyarakat luas.
Grapyak semanak yaitu menanamkan sikap ramah tamah dan hangat, berhasil diwujudkan melalui budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) serta anjuran menggunakan bahasa krama inggil setiap hari Kamis di SMA Negeri 1 Bawang. Setiap pagi, para guru secara bergantian menyambut siswa di depan gerbang dengan senyum, salam, dan sapa untuk menciptakan suasana akrab, nyaman, santun, dan komunikatif. Kebiasaan ini juga mencakup manifestasi tiga perilaku hasthalaku lainnya, yaitu guyub rukun, ewuh pakewuh (saling menghormati), dan andhap asor (sopan santun).
Selain itu, SMA Negeri 1 Bawang selalu melakukan galang dana bagi korban bencana alam dan siswa yang terkena musibah. Hal ini sebagai manifestasi perilaku tepa selira atau tenggang rasa. Para siswa juga membiaskan tata krama dalam berkomunikasi, agar tercipta kerukunan (guyub rukun) dan menghindari konflik sosial. Apabila unggah-ungguh diterapkan dalam dialog sehari-hari, siswa akan terbiasa mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bertindak atau berbicara, sehingga tercipta sikap pangerten (peka dan tulus) serta lembah manah (rendah hati).
Program ini juga berdampak pada aspek kognitif dan afektif siswa. Melalui program Adipangastuti, siswa dapat memahamai konsep-konsep mendasar dari etika dan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Di sisi lain, terjadi penanaman karakter dimana siswa menjadi lebih santun, memiliki rasa empati, dan menghargai sesama. Selain itu, keterampilan siswa untuk berinteraksi secara harmonis, berpartisipasi dalam kerja sama, serta mahir dalam praktik unggah-ungguh juga merupakan output dari program Adipngastuti yang diterapkan di SMA Negeri 1 Bawang.
Meski memberikan berbagai dampak positif, implementasi program Adipangastuti tidak luput dari tantangan. Tantangan utama yang dihadapi adalah adanya resistensi dari sebagian siswa yang belum terbiasa, sehingga merasa terbebani untuk selalu menerapkan etika dan tata krama. SMA Negeri 1 Bawang kemudian merumuskan solusi melalui pendekatan inklusif dan menyenangkan. Pihak sekolah mengemas pembelajaran etika melalui role-playing atau simulasi yang menarik, seperti podcast, video edukasi, dan program-program lain yang mudah diterima oleh para siswa.
Program Adipangastuti yang berlangsung di SMA Negeri 1 Bawang kemudian mampu menjadi model pelestarian budaya di lingkungan pendidikan. Penerapan program ini tidak hanya mengajarkan budaya, tetapi juga membentuk karakter unggul siswa dengan menerpkan perilaku hasthalaku di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Harapannya program Adipangastuti yang masih berjalan di SMA Negeri 1 Bawang hingga saat ini, dapat dikembangkan dan menginspirasi sekolah-sekolah di Indonesia. Penerapan program-progam seperti Adipangastuti menjadi krusial di tengah modernisasi, guna menjaga warisan budaya lokal agar tetap eksis di tengah masuknya budaya barat.
